• Bahasa Bawaan
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Hukum Bercerai dalam Islam: Panduan Syariat dan Prosedur

img

hukum bercerai dalam islam

Apa sih sebenernya hukum bercerai dalam islam itu?

Kalo kita nanya ke tetangga sebelah, “Boleh gak sih cerai menurut Islam?”, jawabannya bisa aja dua-duanya: “Boleh, tapi nggak disuka.” Nah, ini dia intinya! Dalam hukum bercerai dalam islam, perceraian itu memang dibolehkan, tapi disebut sebagai “halal yang paling dibenci Allah”. Jadi, boleh aja, asal bener-bener udah mentok—bukan cuma gara-gara beda selera makan atau nggak suka pasangan nonton drakor terus. Hukum bercerai dalam islam itu seperti pisau: bisa nyelamatin, bisa juga nyakitin, tergantung cara makainya. Di kitab-kitab fiqih, perceraian masuk kategori mubah (boleh), tapi tetep aja ada syarat, rukun, dan etikanya. Jangan sampe cerai cuma gara-gara emosi pas lagi main Mobile Legends, bro!


Apa hukumnya jika seorang istri minta cerai?

Nah, ini nih yang sering bikin heboh di grup WA keluarga. Kalo istri minta cerai, apakah itu dosa? Tenang, gak otomatis dosa, apalagi kalo alasannya masuk akal menurut syariat. Dalam konteks hukum bercerai dalam islam, istri boleh minta cerai lewat proses khuluk—yaitu perceraian yang diajukan istri dengan kompensasi, biasanya pengembalian mahar. Tapi kalo alasannya cuma “nggak cocok vibe”, itu perlu dipikir ulang. Hukum bercerai dalam islam nggak main-main: harus ada alasan syar’i kayak suami nggak nafkahin, kekerasan, atau murtad. Jadi, jangan sampe minta cerai cuma karena suami lupa bawa pulsa, ya, sist!


Suami seperti apa yang wajib diceraikan?

Gak semua suami layak dipertahankan, apalagi kalo udah nyakitin lahir batin. Menurut para ulama, ada beberapa tipe suami yang wajib diceraikan dalam kerangka hukum bercerai dalam islam. Misalnya: suami yang murtad, suami yang nggak kasih nafkah tanpa alasan syar’i, atau suami yang melakukan kekerasan fisik/psikis. Bahkan kalo suami bandel nggak shalat, banyak ulama bilang itu udah termasuk alasan kuat buat cerai. Ingat, hukum bercerai dalam islam itu bukan soal ego, tapi soal menjaga kehormatan dan keselamatan diri. Jadi kalo suamimu lebih sering main judi daripada baca Al-Qur’an, mungkin udah waktunya mikir dua kali.


Bolehkah istri minta cerai karena merasa tidak bahagia?

Ini pertanyaan klasik yang sering muncul di kolom komentar YouTube ustadz. Jawabannya: tergantung. Kalo “nggak bahagia” itu karena suami nggak perhatian, nggak komunikatif, atau emang toxic banget—dan udah diusahain mediasi tapi tetep aja—maka dalam hukum bercerai dalam islam, itu bisa jadi alasan yang diterima. Tapi kalo cuma karena “nggak feel good” atau “nggak ada chemistry kayak di sinetron”, ya itu lebih ke urusan manajemen perasaan. Hukum bercerai dalam islam nggak ngelarang istri cari kebahagiaan, asal jangan sampe ngebuang akal sehat. Ingat, rumah tangga itu bukan drama Korea—nggak semua harus romantis tiap detik!


Alasan apa saja istri boleh menggugat cerai suami?

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan fatwa MUI, berikut daftar alasan sah istri menggugat cerai dalam kerangka hukum bercerai dalam islam:

  • Suami meninggalkan istri selama 2 tahun tanpa kabar
  • Suami nggak kasih nafkah selama 3 bulan berturut-turut
  • Suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
  • Suami murtad atau pindah agama
  • Suami cacat badan atau sakit menular yang nggak bisa disembuhin

Kalo alasan-alasan di atas terpenuhi, maka hukum bercerai dalam islam membolehkan istri mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Jadi, jangan takut! Islam nggak nyuruh kamu bertahan di neraka dunia.


hukum bercerai dalam islam

Prosedur cerai menurut hukum bercerai dalam islam

Cerai itu nggak cuma “aku ceraikan kamu” terus selesai. Dalam hukum bercerai dalam islam, ada prosedur ketat yang harus diikuti biar nggak jadi kacau balau. Pertama, usahain mediasi dulu—bisa lewat keluarga atau tokoh masyarakat. Kedua, kalo mediasi gagal, ajukan ke pengadilan agama. Ketiga, ikuti sidang dan tunjukin bukti alasan cerai. Keempat, kalo dikabulin, ada masa iddah (3 kali suci atau 3 bulan buat yang nggak haid). Selama iddah, suami masih wajib nafkahi istri. Ini semua bagian dari hukum bercerai dalam islam yang adil dan sistematis—bukan asal cuap-cuap doang!


Perbedaan talak, khuluk, dan fasakh dalam hukum bercerai dalam islam

Di kalangan awam, semua cerai dianggap sama. Padahal, dalam hukum bercerai dalam islam, ada tiga jenis utama:

JenisPihak PengusulAlasanKompensasi
TalakSuamiBebas (tapi disarankan ada alasan)Tidak wajib
KhulukIstriButuh alasan & persetujuan suamiIstri kembalikan mahar/sebagian
FasakhIstri (via pengadilan)Alasan syar’i (KDRT, murtad, dll)Tidak perlu kompensasi

Ketiganya punya tempat dalam hukum bercerai dalam islam, dan masing-masing punya konsekuensi hukum beda. Jadi, jangan sampe salah pilih—bisa-bisa malah rugi dua kali!


Dampak sosial dan psikologis dari hukum bercerai dalam islam

Walaupun hukum bercerai dalam islam membolehkan, tapi tetep aja ada stigma. Di kampung-kampung, istri yang cerai sering dianggap “kurang sabar” atau “gak bisa nurut”. Padahal, bisa jadi dia udah bertahan bertahun-tahun! Dampak psikologisnya juga gak main-main: rasa malu, takut dihakimi, atau bahkan trauma. Tapi inget, hukum bercerai dalam islam itu hadir buat melindungi, bukan buat menghukum. Kalo rumah tanggamu udah kayak medan perang, mending cabut aja—Allah nggak nyuruh kamu jadi martir!


Peran keluarga dan masyarakat dalam hukum bercerai dalam islam

Jangan lupa, Islam tuh agama komunitas. Dalam hukum bercerai dalam islam, keluarga dan masyarakat punya peran besar buat mencegah perceraian—bukan malah ngegosipin! Idealnya, kalo ada masalah rumah tangga, keluarga dua pihak harus jadi penengah, bukan penambah masalah. Sayangnya, di zaman now, banyak yang lebih suka jadi “detektif cinta” daripada jadi penasihat bijak. Padahal, hukum bercerai dalam islam itu menganjurkan mediasi dulu sebelum ke pengadilan. Jadi, kalo kamu liat saudaramu lagi ribut, jangan cuma nge-like story-nya—datengin, dengerin, dan bantu cari solusi!


Statistik perceraian dan relevansinya dengan hukum bercerai dalam islam

Menurut data Kemenag RI tahun 2024, angka perceraian di Indonesia nyampe **487.000 kasus**—naik 12% dari tahun sebelumnya. Naik terus kayak harga bawang merah pas puasa! Yang paling nyengir: **68% gugatan diajukan oleh istri**. Artinya, perempuan sekarang makin pede ngambil langkah sesuai prinsip hukum bercerai dalam islam, bukan cuma nahan derita sambil senyum-senyum di depan tetangga kayak lagi live IG.

Tapi lucunya—banyak yang masih gelap soal prosedurnya. Akhirnya, cerai di luar pengadilan: nggak resmi, nggak sah secara negara, apalagi syariah. Ujung-ujungnya malah ribet: akta nikah nggak bisa diupdate, anak susah daftar sekolah, atau malah kena masalah hukum baru. Di Jawa bilang: “Mboten ngerti aturan, malah nambah susah.” Di Sunda mah: “Leuwih hade ngerti prosedur ti pada malu-maluin diri!” Bahkan di Medan, orang bilang: “Kalau nggak tau aturannya, jangan main hantam kromo—nanti kena batunya!”

Nah, ini tugas kita bareng-bareng: sebar edukasi bahwa hukum bercerai dalam islam itu bukan musuh, tapi jalan keluar yang adil, terhormat, dan penuh tanggung jawab. Jangan sampe cerai cuma karena gengsi, malu ke pengadilan, atau takut dikira “gak kuat rumah tangga.” Padahal, justru lewat jalur resmi, lu nunjukin kalo lu dewasa dan ngerti hak!

Buat yang pengin ngulik lebih dalam soal prinsip keadilan dalam hukum—kenapa hukum itu harus bermanfaat, bukan jadi beban—lu wajib baca artikel keren kami: Kemanfaatan Hukum adalah Manfaat untuk Keadilan. Di situ dijelasin gimana hukum seharusnya jadi alat untuk melindungi, bukan menghukum sembarangan.

Oh iya, jangan lupa mampir juga ke Lawyermuslim.com—portal hukum yang nggak cuma otoritatif, tapi juga gampang dimengerti kayak ngobrol sama temen deket. Jalan-jalan juga ke rubrik Hukum, tempat semua pertanyaan lu soal perceraian, hak syariah, dan prosedur resmi dijawab dengan jelas, lengkap, dan tanpa drama berkepanjangan!


Tanya-Jawab Seputar hukum bercerai dalam islam

3 Apa hukumnya jika seorang istri minta cerai?

Dalam hukum bercerai dalam islam, istri boleh minta cerai asalkan melalui proses yang benar seperti khuluk atau fasakh. Jika alasannya syar’i—misalnya suami tidak memberi nafkah atau melakukan KDRT—maka permintaan cerai tersebut tidak hanya boleh, tapi bisa jadi wajib demi menjaga kehormatan dan keselamatan diri. Hukum bercerai dalam islam tidak melarang istri mengambil langkah ini selama dilakukan dengan pertimbangan matang dan bukti yang kuat.

Suami seperti apa yang wajib diceraikan?

Menurut hukum bercerai dalam islam, suami yang wajib diceraikan adalah yang melakukan perbuatan yang merusak akad nikah, seperti murtad, kekerasan fisik/psikis, tidak memberi nafkah tanpa udzur syar’i, atau memiliki penyakit menular yang membahayakan. Dalam kondisi seperti ini, hukum bercerai dalam islam membolehkan bahkan menganjurkan istri untuk mengajukan perceraian demi menjaga agama, jiwa, dan kehormatannya.

Bolehkah istri minta cerai karena merasa tidak bahagia?

Boleh, asal “tidak bahagia” tersebut bukan sekadar perasaan sementara, tapi kondisi objektif yang mengganggu kehidupan rumah tangga secara syar’i. Dalam kerangka hukum bercerai dalam islam, kebahagiaan itu bagian dari tujuan pernikahan. Jika suami terus-menerus menyakiti, mengabaikan, atau membuat istri hidup dalam tekanan, maka hukum bercerai dalam islam membolehkan perceraian sebagai solusi terakhir setelah mediasi gagal.

Alasan apa saja istri boleh menggugat cerai suami?

Istri boleh menggugat cerai suami dalam hukum bercerai dalam islam jika ada alasan syar’i seperti: suami tidak memberi nafkah selama 3 bulan, suami melakukan KDRT, suami murtad, suami menghilang lebih dari 2 tahun, atau suami memiliki cacat/penyakit menular yang tidak bisa disembuhkan. Semua alasan ini diakui dalam hukum bercerai dalam islam dan bisa diajukan ke pengadilan agama melalui proses fasakh.


Referensi

  • https://bimasislam.kemenag.go.id
  • https://mui.or.id
  • https://badilag.mahkamahagung.go.id
  • https://nu.or.id
  • https://muhammadiyah.or.id
2026 © LAWYER MUSLIM
Added Successfully

Ketik di atas dan tekan Enter untuk mencari.