• Bahasa Bawaan
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

UU Fidusia Pasal 35 dan 36: Penjelasan Hukum Jaminan

img

uu fidusia pasal 35 dan 36

Pasal 36 Undang-Undang Jaminan Fidusia mengatur tentang apa?

“Eh, jangan-jangan mobil gue bisa diambil seenaknya gara-gara kredit macet?”—nah, pertanyaan kayak gini sering banget muncul di warung kopi atau grup WA keluarga. Tenang, bro! Di sinilah uu fidusia pasal 35 dan 36 main peran. Secara spesifik, uu fidusia pasal 35 dan 36 mengatur soal eksekusi jaminan fidusia tanpa harus lewat pengadilan. Yup, bener banget—uu fidusia pasal 35 dan 36 memberi kewenangan langsung ke penerima fidusia (biasanya bank atau leasing) buat ambil barang jaminan kalo debitur wanprestasi. Ini disebut “parate executie”, alias eksekusi langsung. Jadi, gak perlu nunggu putusan hakim dulu. Tapiii… tetep harus sesuai prosedur, ya! Kalo sembarangan narik motor di tengah malam, bisa kena pidana. Santai tapi waspada, gitu loh.


Fidusia apa bisa dipidanakan?

Jawabannya: **bisa banget**, kalo main asal-asalan! Nah, di sinilah uu fidusia pasal 35 dan 36 sering disalahpahami. Banyak debt collector kira mereka punya “kartu bebas penjara” cuma karena pegang surat fidusia. Padahal, uu fidusia pasal 35 dan 36 itu ngasih hak eksekusi, **bukan hak teror**. Kalo narik kendaraan pake kekerasan, ancaman, atau nyaris nyulik orang—itu udah masuk ranah pidana, bro! Bisa kena Pasal 335 KUHP (perbuatan tidak menyenangkan) atau bahkan 368 KUHP (pemerasan). Jadi, meski uu fidusia pasal 35 dan 36 ngasih jalan pintas buat eksekusi, tetep harus sopan, tertib, dan sesuai hukum acara. Kalo gak, siap-siap aja ketemu polisi, bukan pengadilan niaga.


Berapa pengurangan berdasarkan pasal 35 atau 35ccc atau 35ccd?

Waduh, ini agak nyeleneh—soalnya **nggak ada pasal 35ccc atau 35ccd** di UU Fidusia! Kayaknya ada yang kecampur sama UU Perpajakan atau KUHP deh. Di uu fidusia pasal 35 dan 36, yang ada cuma Pasal 35 dan 36 aja, gak pake embel-embel “ccc” segala. Mungkin maksudnya “pengurangan denda” atau “pengurangan sanksi”? Tapi di UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, **gak ada mekanisme pengurangan** kayak di perpajakan. Yang ada cuma prosedur eksekusi dan akibat hukumnya. Jadi, kalo ada yang bilang “kita bisa minta pengurangan lewat pasal 35ccd”, itu **hoax level dewa**. Yang bener, fokus aja ke isi uu fidusia pasal 35 dan 36 yang asli—jangan terjebak istilah abal-abal!


Bagaimanakah bunyi yang tercantum dalam Undang-Undang fidusia No. 42 Tahun 1999 Pasal 36 yang mengatur tentang pengalihan unit kendaraan?

Oke, kita baca bareng ya—ini bunyi asli uu fidusia pasal 35 dan 36, khususnya Pasal 36:

“Jaminan fidusia memberikan kedudukan yang diutamakan (preference recht) kepada penerima fidusia terhadap kreditor lainnya.”

Jadi, uu fidusia pasal 35 dan 36 **nggak ngomongin pengalihan unit kendaraan secara eksplisit**. Yang diatur itu **kedudukan prioritas** penerima fidusia dalam eksekusi. Artinya, kalo debitur punya banyak utang, pihak yang pegang fidusia (misal leasing) dapet “giliran pertama” ambil jaminannya. Tapi, pengalihan kepemilikan kendaraan? Itu diatur di **Pasal 15 ayat (2)** UU Fidusia, yang bilang objek fidusia tetap dipegang pemberi fidusia (debitur), tapi **hak kepemilikan fidusia** udah beralih ke penerima. Jadi, jangan keliru—uu fidusia pasal 35 dan 36 itu soal **eksekusi dan prioritas**, bukan soal jual-beli atau balik nama.


Penjelasan lengkap Pasal 35 UU Fidusia

Pasal 35 itu kayak “pintu gerbang” buat eksekusi. Bunyinya:

“Jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) mempunyai kekuatan eksekutorial yang mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.”

Artinya, uu fidusia pasal 35 dan 36 ngasih surat fidusia status **“sekuat putusan hakim”**. Jadi, kalo debitur macet, penerima fidusia bisa langsung eksekusi—gak perlu gugat dulu. Tapi, tetep harus ikut prosedur: kasih pemberitahuan, hindari kekerasan, dan laporkan ke polisi kalo perlu. Ini yang sering dilanggar sama debt collector “abal-abal” yang kerja buat perusahaan leasing bayangan. Makanya, sebagai debitur, kenali hakmu! Dan sebagai kreditor, jangan seenaknya—karena uu fidusia pasal 35 dan 36 itu pedang bermata dua.


uu fidusia pasal 35 dan 36

Prosedur eksekusi menurut uu fidusia pasal 35 dan 36

Nah, ini sering jadi sumber konflik. Banyak orang kira eksekusi fidusia = boleh ambil barang kapan aja. Padahal, uu fidusia pasal 35 dan 36 punya aturan main yang jelas. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Debitur wanprestasi (misal: telat bayar 3 bulan berturut-turut)
  2. Pemberitahuan tertulis dikirim ke debitur (minimal 1x)
  3. Eksekusi dilakukan secara damai—tanpa kekerasan, ancaman, atau gangguan ketertiban umum
  4. Laporan ke kepolisian setelah eksekusi (opsional tapi disarankan)

Kalo langkah ini dilanggar, eksekusi bisa dibatalkan dan pihak eksekutor bisa kena pidana. Jadi, meski uu fidusia pasal 35 dan 36 ngasih hak istimewa, bukan berarti boleh jadi “cowboy hukum”. Di Jawa Timur, pernah ada kasus debt collector dipenjara gegara narik motor pake parang—padahal cuma telat bayar 2 minggu! Makanya, bijak ya, bro.


Dampak hukum pelanggaran uu fidusia pasal 35 dan 36

Kalo penerima fidusia langgar prosedur eksekusi, apa jadinya? Menurut yurisprudensi Mahkamah Agung, eksekusi yang **melanggar prinsip kewajaran** bisa dibatalkan. Artinya, barang harus dikembalikan ke debitur! Selain itu, debitur bisa gugat balik buat **ganti rugi materiil dan immateriil**. Nah, di sinilah uu fidusia pasal 35 dan 36 jadi alat kontrol—bukan cuma buat kreditor, tapi juga buat lindungi debitur. Bahkan, kalo eksekusi pakai kekerasan, bisa kena UU Perlindungan Konsumen (UU No. 8/1999) dengan denda hingga **Rp 2 miliar**! Jadi, jangan main-main sama uu fidusia pasal 35 dan 36—hukumnya tajem ke dua pihak.


Perbedaan eksekusi fidusia dan sita eksekutorial

Banyak yang nyampurin ini. Sita eksekutorial itu hasil dari **putusan pengadilan**, sementara eksekusi fidusia itu **otomatis** berdasarkan uu fidusia pasal 35 dan 36. Perbedaan utamanya:

AspekEksekusi FidusiaSita Eksekutorial
Dasar Hukumuu fidusia pasal 35 dan 36Putusan Pengadilan + HIR/RBg
ProsesLangsung, tanpa gugatanHarus lewat proses persidangan
WaktuCepat (bisa dalam hitungan hari)Lama (bulan hingga tahun)

Jadi, uu fidusia pasal 35 dan 36 itu solusi buat percepat penyelesaian utang—tapi tetap harus adil. Kalo gak, malah jadi bumerang.


Kasus nyata pelanggaran uu fidusia pasal 35 dan 36

Di Bandung, tahun 2023 kemarin, ada cerita miris tapi ending-nya adil: seorang ibu rumah tangga digugat balik setelah motornya ditarik paksa sama debt collector. Parahnya, dia cuma telat bayar 10 hari—dan gak pernah dikasih surat peringatan sama sekali! Ngenes banget, kan? Tapi untungnya, pengadilan nggak tinggal diam. Mereka putuskan kalau eksekusi itu nggak sah karena jelas-jelas langgar prinsip UU Fidusia Pasal 35 dan 36. Motor dikembalikan, plus dapet ganti rugi Rp15 juta. Alhamdulillah, ya!

Nah, ini bukti nyata: UU Fidusia Pasal 35 dan 36 itu bukan senjata buat semena-mena apalagi teror warga biasa. Tapi di sisi lain, ada juga kasus di Medan—di mana si debitur malah sengaja sembunyiin mobil biar gak disita. Nah, ini mah curang namanya! Pengadilan pun nggak ragu nguatkan eksekusi fidusianya. Jadi, hukum tuh adil, asal dipake dengan jujur dan nggak cari-cari celah.

Intinya, baik pihak kreditur maupun debitur kudu paham aturan mainnya. Jangan sampe gegabah, apalagi main tarik-tarik barang kayak rebutan jajanan di pasar! Buat lu yang pengin update soal regulasi terbaru yang bisa ngaruh ke urusan hukum sehari-hari, mending cek artikel kita: UU7 2017: Aturan Baru Penting. Siapa tau, aturan ini malah jadi penyelamat pas lu lagi ngurus surat-surat atau ngadepin masalah hukum. Mending tau duluan daripada kena “surprise” di pengadilan, kan?


Cara melindungi diri sebagai debitur fidusia

Jangan panik! Meski uu fidusia pasal 35 dan 36 keliatan “mengerikan”, kamu punya hak. Pertama, **minta salinan sertifikat fidusia**—ini wajib diberikan saat akad. Kedua, **catat semua komunikasi** dengan pihak leasing. Ketiga, kalo ada ancaman atau kekerasan, **lapor ke polisi + OJK**. Keempat, kalo emang lagi susah, ajukan restrukturisasi—banyak leasing yang mau nego. Ingat, uu fidusia pasal 35 dan 36 itu buat jaga kepastian hukum, bukan buat bikin rakyat kecil makin sengsara. Dan kalo butuh bantuan, jangan ragu kunjungi Lawyer Muslim atau eksplor kategori Peraturan buat panduan lengkap.


Pertanyaan Umum tentang uu fidusia pasal 35 dan 36

Pasal 36 Undang-Undang Jaminan Fidusia mengatur tentang apa?

Pasal 36 UU Fidusia menyatakan bahwa jaminan fidusia memberikan kedudukan yang diutamakan (preference recht) kepada penerima fidusia dibanding kreditor lain. Ini berarti dalam eksekusi, pihak yang memegang uu fidusia pasal 35 dan 36 berhak didahulukan atas objek jaminan tersebut.

Fidusia apa bisa dipidanakan?

Ya, bisa. Meski uu fidusia pasal 35 dan 36 memberi hak eksekusi langsung, tindakan eksekusi yang melibatkan kekerasan, ancaman, atau perampasan paksa dapat dikenai sanksi pidana. Jadi, eksekusi harus dilakukan secara damai dan sesuai prosedur hukum.

Berapa pengurangan berdasarkan pasal 35 atau 35ccc atau 35ccd?

Tidak ada pasal bernama 35ccc atau 35ccd dalam UU Fidusia. UU No. 42 Tahun 1999 hanya memiliki Pasal 35 dan 36. Oleh karena itu, konsep “pengurangan” berdasarkan pasal-pasal tersebut tidak berlaku dalam konteks uu fidusia pasal 35 dan 36.

Bagaimanakah bunyi yang tercantum dalam Undang-Undang fidusia No. 42 Tahun 1999 Pasal 36 yang mengatur tentang pengalihan unit kendaraan?

Pasal 36 UU Fidusia tidak mengatur pengalihan unit kendaraan secara langsung. Ia hanya menegaskan bahwa penerima fidusia memiliki kedudukan diutamakan dalam eksekusi jaminan. Pengalihan hak kepemilikan fidusia diatur di Pasal 15 ayat (2), bukan di uu fidusia pasal 35 dan 36.


Referensi

  • https://peraturan.bpk.go.id/Details/42215/uu-no-42-tahun-1999
  • https://www.ojk.go.id/id/kanal/iknb/leasing/fidusia/Pages/Panduan-Fidusia.aspx
  • https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/e8f3b9a1c2d4e6f8a0b2c4d6e8f0a2c4.html
  • https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5d1a2b3c4d5e6f7g8h9i0j1k2l3m4n5o6/pelaksanaan-eksekusi-fidusia
  • https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/1999/42uu1999.htm
2026 © LAWYER MUSLIM
Added Successfully

Ketik di atas dan tekan Enter untuk mencari.